Apa itu bruxism? Bruxism adalah kebiasaan mengatupkan, menggesekkan, atau menggemeretakkan gigi secara berulang, baik saat tidur maupun ketika terjaga. Kondisi ini sering terjadi tanpa disadari dan baru diketahui ketika rahang terasa pegal, gigi menjadi sensitif, atau kepala terasa sakit setelah bangun tidur.
Pernah mengalami keluhan tersebut? Jangan buru-buru mengabaikannya. Memahami apa itu bruxism sejak awal dapat membantu kamu mengenali tanda-tandanya sebelum kebiasaan ini menyebabkan kerusakan gigi atau mengganggu kenyamanan rahang. Yuk, kenali penyebab, gejala, dan cara mengatasinya!
Table of Contents
ToggleApa Itu Bruxism dan Bagaimana Kondisi Ini Terjadi?
Untuk memahami apa itu bruxism lebih jauh, kamu perlu mengetahui bahwa kondisi ini melibatkan aktivitas otot rahang yang berulang. Bruxism tidak selalu dilakukan secara sadar dan dapat terjadi dalam dua kondisi berbeda.
- Sleep bruxism: aktivitas mengatupkan atau menggemeretakkan gigi ketika tidur.
- Awake bruxism: kebiasaan mengatupkan gigi atau menegangkan otot rahang ketika terjaga, misalnya saat berkonsentrasi atau menghadapi tekanan.
Menurut ulasan ilmiah Thomas dan rekan-rekan yang diterbitkan dalam The Journal of the American Dental Association pada 2024, pemahaman mengenai sleep bruxism terus berkembang. Faktor sistem saraf, genetika, dan kondisi kesehatan tertentu turut dipertimbangkan dalam memahami mekanisme terjadinya bruxism.
5 Penyebab Bruxism yang Perlu Diketahui
Setelah mengetahui apa itu bruxism, pertanyaan berikutnya adalah apa yang memicu kebiasaan tersebut? Penyebab bruxism dapat berbeda pada setiap orang dan biasanya perlu dinilai berdasarkan riwayat kesehatan serta gejala yang dialami.
1. Stres dan kecemasan
Stres akibat pekerjaan, masalah pribadi, atau tekanan sehari-hari dapat berkaitan dengan kebiasaan mengatupkan gigi. Sebagian orang melakukannya tanpa sadar ketika sedang tegang atau berkonsentrasi. Jika terjadi terus-menerus, otot rahang bisa terasa kaku dan menimbulkan ketidaknyamanan. Mengelola stres dapat menjadi salah satu langkah untuk membantu mengurangi kebiasaan ini.
2. Gangguan kualitas tidur
Bruxism saat tidur dapat berkaitan dengan kondisi tidur tertentu, termasuk obstructive sleep apnea atau henti napas berulang ketika tidur. Namun, bruxism tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan tidur. Jika disertai dengkuran keras, terbangun sambil terengah-engah, atau rasa kantuk berlebihan pada siang hari, pemeriksaan medis mungkin diperlukan.
3. Konsumsi kafein dan alkohol
Konsumsi kafein berlebihan, terutama menjelang waktu tidur, dapat memengaruhi kualitas tidur. Alkohol juga dikaitkan dengan peningkatan risiko bruxism pada sebagian orang. Cobalah memperhatikan apakah kebiasaan mengonsumsi kedua zat tersebut berkaitan dengan perubahan gejala yang kamu alami. Membatasi konsumsinya dapat membantu menjaga kualitas tidur, meskipun tidak menjamin bruxism akan berhenti.
4. Merokok dan penggunaan zat tertentu
Nikotin serta beberapa zat stimulan dapat memengaruhi aktivitas sistem saraf dan dikaitkan dengan bruxism. Penggunaan obat-obatan tertentu juga mungkin berperan. Jika kebiasaan menggemeretakkan gigi muncul setelah menggunakan obat resep, konsultasikan dengan dokter sebelum mengubah dosis atau menghentikan pengobatan.
5. Faktor genetik dan kondisi kesehatan
Riwayat bruxism dalam keluarga dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami kondisi serupa. Faktor neurologis dan kondisi kesehatan tertentu juga dapat berkaitan dengan aktivitas otot rahang yang berulang. Meski begitu, tidak semua faktor tersebut terbukti menjadi penyebab langsung. Pemeriksaan diperlukan untuk membantu mengidentifikasi faktor yang mungkin berperan pada setiap individu.
Baca Juga: Apakah Gigi Setelah Perawatan Saluran Akar Harus Dipasang Crown?
Apa Saja Gejala Bruxism?
Mengenali gejala merupakan langkah penting setelah memahami apa itu bruxism. Sleep bruxism sering tidak disadari karena terjadi ketika seseorang sedang tidur.
| Gejala | Tanda yang mungkin dirasakan |
|---|---|
| Gigi aus atau retak | Permukaan gigi terkikis atau muncul retakan |
| Rahang pegal | Rahang terasa kaku setelah bangun tidur |
| Sakit kepala | Nyeri di sekitar pelipis |
| Gigi sensitif | Ngilu saat makan atau minum panas dan dingin |
| Suara gemeretak | Terdengar oleh pasangan tidur pada malam hari |
Gejala tersebut tidak selalu menandakan bruxism. Jika keluhan berulang atau semakin berat, dokter gigi dapat membantu mengevaluasi penyebabnya.
Bagaimana Cara Mengatasi Bruxism?
Cara mengatasi bruxism bergantung pada tingkat keparahan, gejala, dan faktor yang mendasarinya. Penanganan bertujuan membantu melindungi gigi, mengurangi ketidaknyamanan, dan mengelola faktor pemicu.
Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:
- Mengelola stres: lakukan relaksasi, latihan pernapasan, atau aktivitas fisik yang sesuai.
- Memperbaiki kebiasaan tidur: pertahankan jadwal tidur teratur dan batasi kafein menjelang malam.
- Melemaskan rahang: ketika terjaga, sadari kebiasaan mengatupkan gigi dan usahakan rahang tetap rileks.
- Menggunakan pelindung gigi: dokter gigi dapat merekomendasikan night guard atau splint untuk membantu melindungi gigi dari gesekan.
- Menangani faktor pemicu: konsultasikan dugaan gangguan tidur atau efek samping obat kepada tenaga medis yang sesuai.
Sebuah tinjauan sistematis di BMC Oral Health membahas perbandingan berbagai jenis splint untuk penanganan sleep bruxism. Pemilihan alat perlu disesuaikan dengan kondisi pasien. Pelindung gigi dapat membantu mengurangi dampak gesekan, tetapi tidak selalu menghilangkan penyebab bruxism.
Kapan Harus Memeriksakan Bruxism ke Dokter Gigi?
Memahami apa itu bruxism saja belum cukup jika keluhan sudah mengganggu aktivitas sehari-hari. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan jika gigi mulai aus, terasa ngilu terus-menerus, rahang sering nyeri, atau muncul retakan pada gigi. Dokter gigi dapat memeriksa kondisi gigi dan rahang untuk menentukan penanganan yang sesuai. Pemeriksaan tambahan mungkin diperlukan jika terdapat dugaan gangguan tidur atau masalah kesehatan lain.
Baca Juga: Pilihan Proteksi Gigi yang Tepat untuk Senyum yang Sehat
Konsultasikan Keluhan Bruxism di Klinik Senyum & Senyum
Kebiasaan menggemeretakkan gigi yang dibiarkan dapat meningkatkan risiko keausan gigi, sensitivitas, dan ketidaknyamanan pada rahang. Karena penyebab dan tingkat keparahannya berbeda pada setiap orang, penanganan sebaiknya dimulai dengan pemeriksaan yang tepat.
Di Klinik Senyum & Senyum, kamu dapat berkonsultasi dengan dokter gigi untuk mengevaluasi kondisi gigi dan rahang serta mendiskusikan pilihan perawatan sesuai kebutuhan. Jangan menunggu sampai keluhan semakin mengganggu. Kunjungi Klinik Senyum & Senyum untuk mendapatkan informasi layanan dan menjadwalkan konsultasi.
Klinik Gigi Medan Cabang Krakatau
Jalan Gunung Krakatau No. 11, Glugur Darat II, Kota Medan, Sumatera Utara
Klinik Gigi Medan Cabang Juanda
Jl. Ir. H. Juanda No. A7, Pasar Merah Barat, Kota Medan, Sumatera Utara 20214
Klinik Gigi Bogor Cabang Sudirman
Jl. Jend. Sudirman No. 15, Sempur, Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat 16121
E-mail: [email protected]
Referensi
Thomas, D. C., et al. (2024). Sleep bruxism: The past, the present, and the future—evolution of a concept. The Journal of the American Dental Association, 155(4), 329–343.
Ainoosah, S., et al. (2024). Comparative analysis of different types of occlusal splints for the management of sleep bruxism: A systematic review. BMC Oral Health, 24, 29.
Dias de Oliveira, J. M., et al. (2023). Prevalence of awake bruxism: A systematic review. Journal of Dentistry, 138, 104715.
FAQ Seputar Bruxism
1. Apa itu bruxism?
Bruxism adalah aktivitas mengatupkan atau menggemeretakkan gigi secara berulang saat tidur maupun terjaga.
2. Apa penyebab utama bruxism?
Faktor yang dapat berperan meliputi stres, gangguan tidur, konsumsi kafein atau alkohol, merokok, serta penggunaan obat tertentu.
3. Apakah bruxism bisa sembuh?
Bruxism dapat dikelola melalui penanganan yang sesuai. Hasilnya bergantung pada faktor pemicu dan kondisi setiap individu.
4. Apakah bruxism berbahaya bagi gigi?
Jika terjadi berulang dan intens, bruxism dapat menyebabkan gigi aus, retak, sensitif, serta nyeri pada otot rahang.
5. Apakah night guard efektif mengatasi bruxism?
Night guard dapat membantu melindungi gigi dari gesekan, tetapi tidak selalu menghentikan aktivitas bruxism. Penggunaannya sebaiknya berdasarkan rekomendasi dokter gigi.








